Membuat Alat Penetas Telur Sederhana #1

on Selasa, 22 Februari 2011

Artikel kali ini menceritakan tentang percobaan pembuatan alat pengeram telur sangat sederhana. Kami memerlukan alat ini untuk mencoba menetaskan telur burung Merak hijau (Pavo muticus).

Alat pengeram/ penetas telur atau egg incubator bertenaga listrik ini cukup sederhana dan mudah dibuat. Namun kami juga belum tahu apakah inkubator ini sukses menetaskan telur atau tidak karena penetasan telur itu ternyata memiliki beberapa faktor yang menentukan. Namun setidaknya prinsip-prinsip dasar penetasan telur coba kami terapkan pada alat sederhana ini dengan harapan kami bisa mulai belajar mengenai soal penetasan telur.

Artikel ini sekadar sebagai dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan. Ada beberapa kekurangan dalam disain yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian yang sedang mencari informasi pembuatan pengeram. Hati-hati bila anda ingin membuatnya karena perangkat ini terhubung langsung dengan jala-jala listrik rumah yang bila tersetrum tentu rasanya tidak menyenangkan:)

Selamat membaca.

Disain

Langkah awal seperti biasa adalah studi literatur, mengumpulkan beberapa contoh disain inkubator, prinsip penetasan dan ‘menengok’ alat yang dijual di sebuah toko unggas (poultry shop) di kota Bandung.
Di Internet banyak contohnya, mulai dari yang sangat sederhana hanya berupa kotak kardus sampai yang cukup canggih berkapasitas ratusan telur dan dilengkapi dengan pembalik telur otomatis. Ada artikel yang cukup komprehensif soal tetas menetas ini dari Glory Farm (hallo Glory Farm, artikel anda kami link disini ya, terima kasih atas tulisan yang bagus).

Sederhananya, sebuah alat inkubator telur akan terdiri dari:

1. Kotak inkubator
2. Pemanas (heater)
3. Kontrol temperatur (thermocontrol atau thermostat)
4. Penunjuk suhu (thermometer) dan penunjuk kelembaban
5. Rak untuk menyimpan telur

Alat penetas dual power (minyak tanah dan listrik) yang tersedia di toko lokal di Bandung berkapasitas 100 butir seharga Rp. 850.000 menggunakan thermocontrol sederhana. Berbentuk dua lempeng sensor panas (wafel) yang akan mengembang dan menekan saklar untuk memutus arus listrik. Mereka juga menjual sensor tersebut secara terpisah seharga Rp. 72.000. Kekurangan sensor wafel ini adalah tuning yang relatif lebih rumit, serta jangkauan suhu yang tidak bisa terlalu tinggi.

Untuk itu, kami tidak membutuhkan penetas dengan kapasitas besar. Kapasitas 5 telur pun sudah cukup. Sayangnya di pasaran lokal nampaknya tidak tersedia alat dengan kapasitas kecil. Sehingga kami memutuskan untuk mencoba membuatnya sendiri.

Parameter untuk telur peafowl yang kami dapatkan dari literatur internet beberapa hobiis di luar negeri adalah:

* Suhu inkubasi 99°F - 100°F atau sekitar 37.2°C - 37.8°C (dry bulb).
* Kelembaban pengeraman 60% atau 86°F - 87°F temperatur (wet bulb)
* Inkubasi 26 hari plus penetasan 2 - 3 hari.
* Pembalikan telur minimal 2x sehari.

Alat dan Bahan

1. Thermocontrol
Setelah menimbang-nimbang, kami memilih thermocontrol yang sedikit lebih canggih. Harganya memang lebih mahal, namun tentu terlihat lebih keren :) . Memiliki sensor termokopel terpisah dan dial potensiometer untuk tuning suhu yang diinginkan. Rentang suhu 2°C, dengan kemampuan sampai 110°C. Belakangan agak nyesel juga, buat apa suhu setinggi ini hehe. Di pasaran tersedia juga tipe yang memiliki kemampuan dial hanya 50°C. Rasanya yang ini lebih cocok karena tuning suhu akan lebih mudah. Tapi apa boleh buat, yang 110° sudah dibeli.

Dengan thermocontrol model ini kami dapat dengan mudah memindahkan dan men-set suhunya bila ingin digunakan pada peralatan lain, misalnya inkubator yogurt :) .
Selain itu di pasaran ada juga model digital dengan beragam fitur dengan harga yang lebih mahal.
Dial Knob Thermocontrol
From Alat Penetas Telur Sederhana
2. Elemen pemanas
Elemen pemanas digunakan untuk menaikkan suhu di dalam ruangan temperatur sampai suhu yang dikehendaki.
Ada beberapa alternatif murah yang bisa dibuat. Yang mudah adalah dengan menggunakan bohlam lampu. Perambatan panas dari pijar bola lampu akan menghangatkan ruangan. Kekurangannya adalah daya rambat panas yang cenderung lambat. Selain itu untuk kotak seperti yang kami buat, kami kesulitan menemukan bola lampu yang pas dayanya. Yang kami coba, 25 watt terlalu rendah (sekitar 34°C), 60 watt terlalu tinggi (± 41°C).

Untuk itu kami menggunakan elemen pemanas yang biasa digunakan pada kompor listrik. Elemen dengan daya maksimal 300 watt berbentuk spiral kecil yang bisa ditarik dan dirangkai ini murah meriah dan mampu merambatkan panas dengan cepat.
Elemen Pemanas
From Alat Penetas Telur Sederhana
3. Perkabelan, dudukan lampu, bohlam dan saklar
Lampu didalam inkubator rencananya kami gunakan selain sebagai penerang, juga untuk lebih mempertahankan suhu. Lampu ini terhubung dengan saklar tersendiri sehingga bisa dihidup matikan terpisah dengan elemen pemanas. Selain itu juga berfungsi sebagai backup manakala elemen pemanas putus. Berbagai peralatan kelistrikan ini untungnya tersedia di gudang sebagai sisa-sisa eksperimen yang lalu.
4. Kotak Inkubator
Kotak berukuran tinggi 50cm, lebar 24cm dan panjang 30cm dari bahan MDF ini merupakan kotak ex mainan anak yang kami temukan di gudang. Kami hanya menambahkan pintu dari bahan multiplex dan engselnya.
5. Alat kontrol Suhu dan Kelembaban
Thermometer sederhana dapat digunakan di dalam inkubator. Toko penyedia peralatan medis biasanya memiliki. Ada yang model air raksa/ mercury dilapis dengan papan multi (± Rp. 10.000) atau model batang (Rp. 12.500). Yang perlu diketahui thermometer yang biasa ini adalah alat untuk mengukur udara kering (dry bulb). Sedangkan untuk kelembaban kita juga harus memiliki thermometer untuk mengukur udara basah (wet bulb). Sayangnya kami belum menemukan thermometer wet bulb yang cukup ringkas untuk masuk dalam kotak inkubator kami.
Selain menggunakan wet bulb thermometer, pengukuran kelembaban bisa menggunakan hygrometer, namun sayangnya harganya lebih mahal. Penulis menemukan unit hygrometer yang cukup representatif harganya mencapai Rp. 200.000.
Kelembaban adalah faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan embrio ayam, terutama saat menetas karena berhubungan dengan kondisi kering tidaknya kulit telur dan penguapan.
Yang harus diperhatikan adalah pengukuran dilakukan di berbagai sudut didalam inkubator, hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian "tuning".

Prinsip-prinsip dasar penetasan nampaknya sama untuk semua jenis telur.
Pada artikel berikutnya kami akan ceritakan skema dan cara merangkai alat-alat tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar